Apakah hasil kerja seperti ini sesuai SOP?

image

Pic diatas ini sudah saya ambil sekitar 2 mingguan di depan Denpasar Junction tepat di dekat traffic light jalan teuku umar dan jalan diponogoro. Sebenarnya sudah lama ingin menulis tentang hal ini cuma baru saja kesampaian dan dapat pic aslinya.
Baca lebih lanjut

macet [ntah dah berapa kali nulis topik ini]

Kemarin siang adalah entah hari keberapa sudah kota Denpasar tercinta ini mengalami kemacetan luar biasa karena adanya pembangunan parkir basement di Jalan Gajah Mada yang merupakan jantung jalan denpasar. Proyek tersebut pada peta saya gambarkan dengan gambar kotak berwarna biru tua. Jalan Gajah Mada pada gambar diatas digambarkan dengan garis merah. Semua kendaraan yang masuk ke jalan ini geraknya pasti akan merambat. Akhirnya jalan “kedua” adalah pilihan. Tapi apa daya karena jalan “kedua” itu juga termasuk sempit yaitu cuma 2 lajur untuk 2 arah dan juga dijadikan jalan “buangan” dari Jalan Gajah Mada yang super krodit, alhasil jalan “kedua” ini juga ga kalah parah macetnya. Jadi dah kayak benang kusut. Di gambar saya gambar dengan garis warna ungu. Jakarta macet masih mending karena jalannya banyak yang lebar. Tapi Denpasar ampunnnnn.. Macet plus jalannya super sempit.
Baca lebih lanjut

Macet lagiiii

image

Macet. Itu adalah kata-kata yang mulai akrab di telinga penduduk kota denpasar tercinta ini. Walaupun denpasar termasuk kota besar tapi prasarana jalannya bisa dikatakan tidaklah mencerminkan kota besar. Bagi yang sudah pernah ke bali pasti tau apa yang saya maksud.

Oke kali ini saya akan menulis tentang kekroditan jalan gajah mada. FYI, jalan gajah mada ini adalah salah satu jalan utama di tengah kota yang punya peranan sangat vital bagi perekonomian denpasar. Di jalan ini dahulu merupakan sentra perekonomian masyarakat. Lalu di jalan ini pula terdapat pasar tradisional “pasar badung” yang menggerakkan sisi perekonomian. Ujung dari jalan ini adalah merupalan titik nol kilometer dari kota denpasar yang tepat berada di taman kota yang dinamakan lapangan puputan. Kantor gubernur pun ada di ujung jalan ini.

image

Jalan ini sekarang sedang mengalami penataan. Tapi apesnya (menurut saya) bukanlah peremajaan menuju lebih baik. Tapi sebaliknya. Kenapa saya berkata demikian? Karena jalan ini direnovasi dengan menggunakan paving block. Kalau cuma di perumahan okelah. Tapi ini jalan umum yang tiap jamnya dilalui oleh ratusan kendaraan dari berbagai jenis dan ukuran dan berat. Berapa lama akan bertahan? Terus perawatannya gimana kalau ada yang rusak? Bukanlah ini cuma akan menambah ‘gawat’ lalu lintas saja. Kenapa ga diaspal hotmix kelas wahid aja sekalian biar ga cepat keropos aspalnya?

image

Dahulu di perempatan jalan ini, aspalnya pernah ditutupi dengan batu sikat, yaitu batu kali yang berwarna warni yang dibuat bermotif gambarnya. Baru beberapa bulan sudah hancur. Bongkar lagi. Lalu diganti dengan paving. Nah sekarang dibeberapa bagian dasar pavingnya sudah ada yg turun yang menyebabkan jalannya bergelombang. Trus gimana kalau gitu? Bongkar lagi dunk.. Aduhh berapa duit tuh habis
Kasian para pedagang yang jualan disekitar jalan tersebut yang sudah pasti omzet menurun. Ditambah lagi waktu yang terbuang karena kena macetnya
Belum lagi ntar kalau paving-isasi sudah selesai lalu ada galian telkom, pln atau pdam yang otomatis akan membongkar jalan lagi yang berarti pavingnya dibongkar lagi. Omigottttt saya yang ga waras mikir atau para pembuat kebijakan yang terlalu pintar dengan teori ya?
Jadi apakah salah kalau misal masyarakat berpikir ini adalah pekerjaan yang berbau proyek yang ujung-ujungnya kkn?

image

image

image

image

Ps: pic paling terakhir adalah contoh penggunaan batu sikat yang sudah bolong ujungnya. Jadi ada jebakan betmen. Kliatan kan terkelupasnya? Sekarang sih jalan diatas belum terkena proyek. Ga tau 1 atau 2 tahun kemudian 🙂